Tenggarong – Saat sebagian desa di Kutai Kartanegara masih berjibaku menekan angka stunting, Desa Rapak Lambur menempuh jalur berbeda: mempertahankan status bebas stunting dengan strategi berkelanjutan.
Desa yang berada di Kecamatan Tenggarong ini dikenal sebagai wilayah dengan nol kasus stunting. Namun, alih-alih mengendurkan upaya, pemerintah desa justru menambah porsi anggaran untuk program pencegahan.
Tahun ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Rapak Lambur meningkatkan alokasi anggaran untuk penanganan dan pencegahan stunting dari sebelumnya 10 persen menjadi 19 persen dari total Dana Desa. Nilainya pun naik signifikan dari Rp113 juta pada 2024 menjadi lebih tinggi di 2025 (nominal belum disebutkan secara pasti).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak ingin lengah meskipun tidak ada kasus stunting. Pencegahan lebih baik daripada mengobati, dan kami ingin terus menjaga status desa ini bebas dari stunting,” ujar Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, Kamis (13/3/2025).
Program pencegahan yang dijalankan tak hanya sebatas pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil. Pemdes juga menyusun strategi menyeluruh: mulai dari pemberian vitamin dan asupan gizi untuk ibu dan anak, suplemen tablet tambah darah untuk remaja putri, hingga penyuluhan pola makan sehat.
Rangkaian kegiatan seperti rembuk stunting dan Focus Group Discussion (FGD) rutin digelar. Melalui dialog terbuka bersama ibu hamil dan kader kesehatan, desa berupaya memastikan bahwa program yang dijalankan selaras dengan kebutuhan warga.
Yusuf menegaskan bahwa pendekatan mereka tak hanya soal kesehatan fisik. “Di tahun ini, Pemdes mau meningkatkan SDM mulai dari ibu hamil, balita, pemuda dan pemudinya. Karena anak-anak itu adalah aset desa,” ujarnya.
Langkah Rapak Lambur merefleksikan bahwa pencegahan stunting bukan sekadar upaya temporer, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia. Dengan menyasar akar persoalan sejak dini, desa ini ingin menjamin generasi mendatang tumbuh sehat dan cerdas.
Rapak Lambur bisa menjadi contoh bahwa status “Zero Stunting” bukan titik akhir, tapi justru awal dari komitmen berkelanjutan. Ketika banyak desa menunggu munculnya masalah untuk bertindak, desa ini membuktikan bahwa pencegahan adalah strategi paling efektif membangun masa depan. (adv)


![Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Timur Baharuddin Demmu.[Ist]](https://www.kanalanalisis.com/wp-content/uploads/ketua-komisi-I-DPRD-Kalimantan-Timur-Baharuddin-Demmu-225x129.jpg)










