Pertanian Embalut Kukar Bertahan di Gempuran Tengah Tambang

- Jurnalis

Kamis, 13 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret lahan pertanian yang sedang digarap. (Kontributor KMM)

Potret lahan pertanian yang sedang digarap. (Kontributor KMM)

Tenggarong – Di tengah dominasi industri tambang yang menggurita di Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, segelintir petani masih memilih jalan sunyi: mempertahankan pertanian.

Meski lahan menyusut dan tanah kehilangan kesuburan, mereka tak menyerah. Kini, mereka menjalani proses transformasi bertani di lahan-lahan yang rusak akibat eksploitasi tambang, sembari berharap pada masa depan yang lebih hijau.

Menurut Kepala Desa Embalut, Yahya, luas lahan pertanian di desanya merosot drastis dalam dua dekade terakhir. Dari yang semula ratusan hektare, kini hanya tersisa sekitar 40 hektare sawah yang kualitas tanahnya terus menurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sawah padi kami tersisa cuma sekitar 40 hektare. Itu pun kualitasnya sudah turun jauh dibanding dulu,” ujar Yahya, Kamis (13/3/2025).

Kondisi tersebut diperparah oleh proses reklamasi tambang yang belum efektif. Tanah eks-lahan tambang yang dikembalikan ke desa dalam kondisi ekstrem dan miskin unsur hara, sehingga sulit langsung ditanami.

“Ini lahan ekstrem. Pemulihannya butuh waktu tiga sampai empat tahun. Harus sabar dan rajin pupuk organik,” lanjutnya.

Alih-alih bergantung pada padi, para petani mulai beradaptasi dengan menanam komoditas yang lebih tangguh di tanah marginal seperti jagung, singkong, dan cabai. Pola tanam pun dirancang bergiliran untuk menjaga keseimbangan tanah.

Namun, tantangan belum selesai. Kesuburan tanah yang rendah menuntut penggunaan pupuk lebih intensif. Sementara harga pupuk kimia terus melonjak, petani dihadapkan pada pilihan sulit antara produktivitas dan biaya produksi.

Sebagai solusi, Desa Embalut mulai menerapkan pendekatan integrasi pertanian-peternakan. Petani didorong memelihara sapi, lalu memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk kandang untuk memperbaiki tanah.

“Kami mencoba integrasi dengan peternakan sapi. Kotorannya kami olah jadi pupuk kandang, jadi lebih murah dan lebih ramah lingkungan,” kata seorang petani setempat.

Sayangnya, inisiatif ini belum sepenuhnya didukung oleh sistem pendampingan pemerintah. Yahya mengungkapkan, penyuluh pertanian dari dinas terkait hampir dua tahun tak mengunjungi desa.

“PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) kami sudah hampir dua tahun tidak pernah turun ke desa. Padahal, petani kami butuh bimbingan teknis untuk mengelola tanah yang rusak,” keluhnya.

Selain teknis, masalah regenerasi petani juga menghantui. Anak muda desa lebih memilih bekerja di sektor tambang yang dianggap lebih cepat menghasilkan ketimbang bertani.

“Banyak anak muda berpikir bertani itu melelahkan dan kurang menguntungkan. Padahal, kalau dikelola dengan baik, bertani bisa jauh lebih menguntungkan daripada kerja di tambang,” kata Yahya.

Pemerintah desa kini menggagas transformasi pemahaman, bahwa pertanian adalah peluang bisnis, bukan sekadar aktivitas subsisten. Edukasi pasar digencarkan, termasuk cara menghitung margin keuntungan, mencari mitra dagang, dan mengakses pembiayaan.

“Kalau satu hektare jagung bisa untung Rp50 juta, kenapa tidak? Masalahnya selama ini bertani tidak diajarkan sebagai bisnis, tapi hanya sekadar bertahan hidup,” tegasnya.

Desa Embalut tengah membangun arah baru pertanian berbasis pasar. Dari keterbatasan lahan, krisis kesuburan tanah, hingga tantangan budaya, para petani tetap berdiri di tengah badai perubahan.

“Saya percaya kalau kita kelola dengan ilmu dan mau belajar, pertanian tetap punya masa depan di Embalut,” pungkas Yahya. (adv)

Berita Terkait

Safari Subuh ke-298, Bupati Kukar Dorong Pembangunan Berbasis Program “Kukar Idaman Terbaik”
DPMD Kukar Pastikan Penyaluran Bankeu Desa Lebih Transparan dan Tepat Sasaran
Pemkab Kukar Matangkan Persiapan Program Makanan Bergizi Gratis
Teruna Dara Kukar 2025 Resmi Dibuka, Dispar Dorong Generasi Muda Jadi Duta Wisata dan UMKM
Camat Kota Bangun Darat Minta Aksi Cepat Atasi Krisis Air Bersih
Pemkab Kukar Maksimalkan SiLPA dan Dorong PAD untuk Perkuat Kemandirian Fiskal 2025
Samboja Resmi Masuk Delineasi IKN, Camat Minta Koordinasi Pemerintah Diperkuat
Desa Sukamaju Genjot Pembangunan Embung dan Penataan Goa Batu Gelap untuk Majukan Ekonomi Warga

Berita Terkait

Senin, 21 Juli 2025

Safari Subuh ke-298, Bupati Kukar Dorong Pembangunan Berbasis Program “Kukar Idaman Terbaik”

Minggu, 20 Juli 2025

DPMD Kukar Pastikan Penyaluran Bankeu Desa Lebih Transparan dan Tepat Sasaran

Jumat, 18 Juli 2025

Pemkab Kukar Matangkan Persiapan Program Makanan Bergizi Gratis

Jumat, 18 Juli 2025

Teruna Dara Kukar 2025 Resmi Dibuka, Dispar Dorong Generasi Muda Jadi Duta Wisata dan UMKM

Jumat, 18 Juli 2025

Camat Kota Bangun Darat Minta Aksi Cepat Atasi Krisis Air Bersih

Kamis, 17 Juli 2025

Samboja Resmi Masuk Delineasi IKN, Camat Minta Koordinasi Pemerintah Diperkuat

Kamis, 17 Juli 2025

Desa Sukamaju Genjot Pembangunan Embung dan Penataan Goa Batu Gelap untuk Majukan Ekonomi Warga

Rabu, 16 Juli 2025

Pemkab Kukar Mantapkan Langkah Pembangunan, Aulia: “Kerja Keras Kami untuk Semua Warga”

Berita Terbaru