Tenggarong — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan keseriusannya dalam mendorong hilirisasi sektor perkebunan. Salah satu langkah strategis yang kini tengah dipersiapkan adalah pembangunan Pabrik Minyak Makan Merah di Desa Kelekat, Kecamatan Kembang Janggut. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2029.
Pabrik ini diproyeksikan menjadi motor penggerak baru bagi ekonomi kerakyatan, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah produk sawit lokal. Menurut Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kukar, Sayid Fatullah, kehadiran pabrik bukan hanya tentang pembangunan fisik semata, melainkan strategi besar dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kemandirian industri daerah.
“Harapannya dalam empat tahun ke depan, pabrik sudah bisa berdiri dan siap memproduksi. Ini langkah nyata kita untuk memperkuat hilirisasi kelapa sawit,” ujar Sayid, Senin (10/3/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Manfaat Ganda Minyak Makan Merah
Minyak makan merah adalah produk olahan sawit yang tidak melewati proses rafinasi penuh, sehingga tetap mengandung vitamin A dan E dalam kadar tinggi. Selain itu, harganya lebih terjangkau dibanding minyak goreng komersial, menjadikannya alternatif yang lebih sehat dan ekonomis untuk masyarakat.
Sayid menjelaskan bahwa pabrik ini kelak akan berfungsi sebagai pusat pengolahan mandiri sawit lokal, yang bisa memotong rantai pasok panjang dan meningkatkan pendapatan petani. Saat ini, mayoritas petani sawit Kukar menjual hasil panen dalam bentuk TBS (tandan buah segar) ke luar daerah tanpa nilai tambah berarti.
“Dengan adanya pabrik ini, kita ingin petani bisa langsung menikmati hasil dari produk turunannya, bukan hanya jadi penonton,” ucapnya.
Tantangan Teknis dan Proses Bertahap
Meski rencana telah disusun matang, proses pembangunan memerlukan waktu dan tahapan. Lahan yang digunakan merupakan hibah dari pemerintah desa, namun berada di area rawa, sehingga memerlukan pematangan terlebih dahulu. Saat ini, proses hibah lahan sudah tuntas dan Pemkab Kukar tengah fokus pada penyusunan studi kelayakan, desain teknis, serta pengurusan perizinan dan pengadaan alat produksi.
“Kondisi lahannya menantang, tapi bukan tidak bisa. Sekarang yang penting kita selesaikan dulu tahap-tahap persiapan dasarnya,” jelas Sayid.
Dorong Kolaborasi dan Studi Banding
Untuk memastikan pembangunan berjalan optimal, Pemkab Kukar juga merencanakan studi banding ke Deli Serdang, Sumatera Utara, lokasi pabrik minyak makan merah pertama di Indonesia yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, Kukar akan menggandeng Lembaga Minyak Makan Merah Indonesia (LMMMI) serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebagai mitra pendukung utama.
Sayid menekankan, kolaborasi adalah kunci keberhasilan proyek ini. “Ini bukan hanya proyek pemerintah, tapi proyek kolektif yang akan mengubah cara kita melihat sawit. Harus ada sinergi dari petani, industri, hingga masyarakat umum,” katanya.
Menuju Ekosistem Industri Berkelanjutan
Lebih dari sekadar pembangunan pabrik, langkah ini diposisikan sebagai pijakan awal untuk menciptakan ekosistem industri sawit lokal yang mandiri, adil, dan berkelanjutan. Tak hanya membuka peluang kerja baru, keberadaan pabrik ini juga mendukung keberlanjutan UMKM kuliner dengan menyediakan bahan baku minyak goreng sehat dengan harga lebih stabil.
Jika rencana berjalan lancar, Kukar akan menjadi daerah percontohan pengembangan hilirisasi sawit berbasis masyarakat, yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional. (Adv)


![Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Timur Baharuddin Demmu.[Ist]](https://www.kanalanalisis.com/wp-content/uploads/ketua-komisi-I-DPRD-Kalimantan-Timur-Baharuddin-Demmu-225x129.jpg)










